Rabu, 13 Maret 2013

JENIS TINDAK TUTUR Searle dalam bukunya Act: An Essay in the Philoshopy of Language mengemukakan bahwa secara pragmatis ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur (dlm Rohmadi 2004: 30) yakni tindak lokusi (locutionary act), tindak ilokusi (illocutionary act), dan tindak tutur perlokusi (perlocutionary act). Hal ini senada dengan pendapat Austin yang juga membagi jenis tindak tutur menjadi lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Berikut pembahasan ketiganya. 1. Tindak Lokusi Tidak tutur lokusi adalah tindak tutur yang dimaksudkan untuk menyatakan sesuatu; tindak mengucapkan sesuatu dengan kata dan makna kalimat sesuai dengan makna kata itu di dalam kamus dan makna kalimat itu menurut kaidah sintaksisnya. Rahardi (2003: 71) mendefinisikan bahwa lokusi adalah tindak bertutur dengan kata, frasa, dan kalimat sesuai dengan makna yang dikandung oleh kata, frasa, dan kalimat itu. Contoh tindak tutur lokusi adalah ketika seseorang berkata “badan saya lelah sekali”. Penutur tuturan ini tidak merujuk kepada maksud tertentu kepada mitra tutur. Tuturan ini bermakna bahwa si penutur sedang dalam keadaan lelah yang teramat sangat, tanpa bermaksud meminta untuk diperhatikan dengan cara misalnya dipijit oleh si mitra tutur. Penutur hanya mengungkapkan keadaannya yang tengah dialami saat itu. Contoh lain misalnya kalimat “Sandy bermain gitar”. Kalimat ini dituturkan semata-mata untuk menginformasikan sesuatu tanpa tendensi untuk melakukan sesuatu apalagi untuk memengaruhi lawan tuturnya. 2. Tindak Ilokusi Bila tata bahasa menganggap bahwa kesatuan-kesatuan statis yang abstrak seperti kalimat-kalimat dalam sintaksis dan proposisi-proposisi dalam semantik, maka pragmatik menganggap tindak-tindak verbal atau performansi-performansi yang berlangsung di dalam situasi-situasi khusus dan waktu tertentu. Pragmatik menganggap bahasa dalam tingkatan yang lebih konkret daripada tata bahasa. Ilokusi adalah tindak melakukan sesuatu Ilokusi merupakan tindak tutur yang mengandung maksud dan fungsi atau daya tuturan. Pertanyaan yang diajukan berkenaan dengan tindak ilokusi adalah “untuk apa ujaran itu dilakukan” dan sudah bukan lagi dalam tataran “apa makna tuturan itu?”. Contoh tindak tutur ilokusi adalah “udara panas”. Tuturan ini mengandung maksud bahwa si penutur meminta agar pintu atau jendela segera dibuka, atau meminta kepada mitra tutur untuk menghidupkan kipas angin. Jadi jelas bahwa tuturan itu mengandung maksud tertentu yang ditujukan kepada mitra tutur. Contoh lain, kalimat “Suseno sedang sakit”. Jika kalimat ini dituturkan kepada mitra tutur yang sedang menyalakan televisi dengan volume yang sangat tinggi, berarti tuturan ini tidak hanya dimaksudkan untuk memberikan informasi, tetapi juga menyuruh agar mengecilkan volume atau bahkan mematikan televisi. 3. Tindak Tutur Perlokusi Tuturan yang diucapkan penutur sering memiliki efek atau daya pengaruh (perlocutionary force). Efek yang dihasilkan dengan mengujarkan sesuatu itulah yang oleh Austin (1962: 101) dinamakan perlokusi. Efek atau daya tuturan itu dapat ditimbulkan oleh penutur secara segaja, dapat pula secara tidak sengaja. Tindak tutur yang pengujaran dimaksudkan untuk memengaruhi mitra tutur inilah merupakan tindak perlokusi. Ada beberapa verba yang dapat menandai tindak perlokusi. Beberapa verba itu antara lain membujuk, menipu, mendorong, membuat jengkel, menakut-nakuti, menyenangkan, mempermalukan, menarik perhatian, dan lain sebagainya (Leech, 1983). Contoh tuturan yang merupakan tindak perlokusi: 1. “ada hantu!” 2. “sikat saja!” 3. “dia selamat, Bu.” Sehubungan dengan pengertian tindak tutur di atas, tindak tutur digolongkan menjadi lima jenis oleh Searle (Rohmadi, 2004:32; Rustono, 1999: 39). Kelima jenis itu adalah tindak tutur representatif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklarasi. Berikut penjelasan kelimanya. 1) Tindak tutur Representatif Representatif merupakan tindak tutur yang mengikat penuturnya kepada kebenaran atas hal yang dikatakannya. Tindak tutur jenis ini juga disebut dengan tindak tutur asertif. Yang termasuk tindak tutur jenis ini adalah tuturan menyatakan, menuntut, mengakui, menunjukkan, melaporkan, memberikan kesaksian, menyebutkan, berspekulasi. Contoh: “Adik selalu unggul di kelasnya”. Tuturan tersebut termasuk tindak tutur representatif sebab berisi informasi yang penuturnya terikat oleh kebenaran isi tuturan tersebut. Penutur bertanggung jawab bahwa tuturan yang diucapkan itu memang fakta dan dapat dibuktikan di lapangan bahwa si adik rajin belajar dan selalu mendapatkan peringkat pertama di kelasnya. Contoh: “Tim sepak bola andalanku menang telak”, “Bapak gubernur meresmikan gedung baru ini”. 2) Tindak tutur Direktif Tindak tutur direktif adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar mitra tutur melakukan tindakan sesuai apa yang disebutkan di dalam tuturannya. Tindak tutur direktif disebut juga dengan tindak tutur impositif. Yang termasuk ke dalam tindak tutur jenis ini antara lain tuturan meminta, mengajak, memaksa, menyarankan, mendesak, menyuruh, menagih, memerintah, mendesak, memohon, menantang, memberi aba-aba. Contohnya adalah “Bantu aku memperbaiki tugas ini”. Contoh tersebut termasuk ke dalam tindak tutur jenis direktif sebab tuturan itu dituturkan dimaksudkan penuturnya agar melakukan tindakan yang sesuai yang disebutkan dalam tuturannya yakni membantu memperbaiki tugas. Indikator dari tuturan direktif adalah adanya suatu tindakan yang dilakukan oleh mitra tutur setelah mendengar tuturan tersebut. 3) Tindak tutur Ekspresif Tindak tutur ini disebut juga dengan tindak tutur evaluatif. Tindak tutur ekspresif adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar tuturannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan dalam tuturan itu, meliputi tuturan mengucapkan terima kasih, mengeluh, mengucapkan selamat, menyanjung, memuji, mengalahkan, dan mengkritik. Tuturan “Sudah kerja keras mencari uang, tetap saja hasilnya tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga”. Tuturan tersebut merupakan tindak tutur ekspresif mengeluh yang dapat diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang dituturkannya, yaitu usaha mencari uang yang hasilnya selalu tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Contoh tuturan lain adalah “Pertanyaanmu bagus sekali” (memuji), “Gara-gara kecerobohan kamu, kelompok kita didiskualifikasi dari kompetisi ini” (menyalahkan), “Selamat ya, Bu, anak Anda perempuan” (mengucapkan selamat). 4) Tindak tutur Komisif Tindak tutur komisif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan segala hal yang disebutkan dalam ujarannya, misalnya bersumpah, berjanji, mengancam, menyatakan kesanggupan, berkaul. Contoh tindak tutur komisif kesanggupan adalah “Saya sanggup melaksanakan amanah ini dengan baik”. Tuturan itu mengikat penuturnya untuk melaksanakan amanah dengan sebaik-baiknya. Hal ini membawa konsekuensi bagi dirinya untuk memenuhi apa yang telah dituturkannya. Cotoh tuturan yang lain adalah “Besok saya akan datang ke pameran lukisan Anda”, “Jika sore nanti hujan, aku tidak jadi berangkat ke Solo”. 5) Tindak tutur Deklarasi Tindak tutur deklarasi merupakan tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya untuk menciptakan hal (status, keadaan, dan sebagainya) yang baru. Tindak tutur ini dislam je


JENIS TINDAK TUTUR
Searle dalam bukunya Act: An Essay in the Philoshopy of Language mengemukakan bahwa secara pragmatis ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur (dlm Rohmadi 2004: 30) yakni tindak lokusi (locutionary act), tindak ilokusi (illocutionary act), dan tindak tutur perlokusi (perlocutionary act). Hal ini senada dengan pendapat Austin yang juga membagi jenis tindak tutur menjadi lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Berikut pembahasan ketiganya.
1.    Tindak Lokusi
Tidak tutur lokusi adalah tindak tutur yang dimaksudkan untuk menyatakan sesuatu; tindak mengucapkan sesuatu dengan kata dan makna kalimat sesuai dengan makna kata itu di dalam kamus dan makna kalimat itu menurut kaidah sintaksisnya. Rahardi (2003: 71) mendefinisikan bahwa lokusi adalah tindak bertutur dengan kata, frasa, dan kalimat sesuai dengan makna yang dikandung oleh kata, frasa, dan kalimat itu.
Contoh tindak tutur lokusi adalah ketika seseorang berkata “badan saya lelah sekali”. Penutur tuturan ini tidak merujuk kepada maksud tertentu kepada mitra tutur. Tuturan ini bermakna bahwa si penutur sedang dalam keadaan lelah yang teramat sangat, tanpa bermaksud meminta untuk diperhatikan dengan cara misalnya dipijit oleh si mitra tutur. Penutur hanya mengungkapkan keadaannya yang tengah dialami saat itu.
Contoh lain misalnya kalimat “Sandy bermain gitar”. Kalimat ini dituturkan semata-mata untuk menginformasikan sesuatu tanpa tendensi untuk melakukan sesuatu apalagi untuk memengaruhi lawan tuturnya.

2.    Tindak Ilokusi
Bila tata bahasa menganggap bahwa kesatuan-kesatuan statis yang abstrak seperti kalimat-kalimat dalam sintaksis dan proposisi-proposisi dalam semantik, maka pragmatik menganggap tindak-tindak verbal atau performansi-performansi yang berlangsung di dalam situasi-situasi khusus dan waktu tertentu. Pragmatik menganggap bahasa dalam tingkatan yang lebih konkret daripada tata bahasa. Ilokusi adalah tindak melakukan sesuatu Ilokusi merupakan tindak tutur yang mengandung maksud dan fungsi atau daya tuturan. Pertanyaan yang diajukan berkenaan dengan tindak ilokusi adalah “untuk apa ujaran itu dilakukan” dan sudah bukan lagi dalam tataran “apa makna tuturan itu?”.
Contoh tindak tutur ilokusi adalah “udara panas”. Tuturan ini mengandung maksud bahwa si penutur meminta agar pintu atau jendela segera dibuka, atau meminta kepada mitra tutur untuk menghidupkan kipas angin. Jadi jelas bahwa tuturan itu mengandung maksud tertentu yang ditujukan kepada mitra tutur.
Contoh lain, kalimat “Suseno sedang sakit”. Jika kalimat ini dituturkan kepada mitra tutur yang sedang menyalakan televisi dengan volume yang sangat tinggi, berarti tuturan ini tidak hanya dimaksudkan untuk memberikan informasi, tetapi juga menyuruh agar mengecilkan volume atau bahkan mematikan televisi.

3.    Tindak Tutur Perlokusi
Tuturan yang diucapkan penutur sering memiliki efek atau daya pengaruh (perlocutionary force). Efek yang dihasilkan dengan mengujarkan sesuatu itulah yang oleh Austin (1962: 101) dinamakan perlokusi. Efek atau daya tuturan itu dapat ditimbulkan oleh penutur secara segaja, dapat pula secara tidak sengaja. Tindak tutur yang pengujaran dimaksudkan untuk memengaruhi mitra tutur inilah merupakan tindak perlokusi.
Ada beberapa verba yang dapat menandai tindak perlokusi. Beberapa verba itu antara lain membujuk, menipu, mendorong, membuat jengkel, menakut-nakuti, menyenangkan, mempermalukan, menarik perhatian, dan lain sebagainya (Leech, 1983).
Contoh tuturan yang merupakan tindak perlokusi:
  1. “ada  hantu!”
  2. “sikat saja!”
  3. “dia selamat, Bu.”

Sehubungan dengan pengertian tindak tutur di atas, tindak tutur digolongkan menjadi lima jenis oleh Searle (Rohmadi, 2004:32; Rustono, 1999: 39). Kelima jenis itu adalah tindak tutur representatif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklarasi. Berikut penjelasan kelimanya.

1)        Tindak tutur Representatif
Representatif merupakan tindak tutur yang mengikat penuturnya kepada kebenaran atas hal yang dikatakannya. Tindak tutur jenis ini juga disebut dengan tindak tutur asertif. Yang termasuk tindak tutur jenis ini adalah tuturan menyatakan, menuntut, mengakui, menunjukkan, melaporkan, memberikan kesaksian, menyebutkan, berspekulasi.
Contoh: “Adik selalu unggul di kelasnya”. Tuturan tersebut termasuk tindak tutur representatif sebab berisi informasi yang penuturnya terikat oleh kebenaran isi tuturan tersebut. Penutur bertanggung jawab bahwa tuturan yang diucapkan itu memang fakta dan dapat dibuktikan di lapangan bahwa si adik rajin belajar dan selalu mendapatkan peringkat pertama di kelasnya.
Contoh: “Tim sepak bola andalanku menang telak”, “Bapak gubernur meresmikan gedung baru ini”.


2)       Tindak tutur  Direktif
Tindak tutur direktif adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar mitra tutur melakukan tindakan sesuai apa yang disebutkan di dalam tuturannya. Tindak tutur direktif disebut juga dengan tindak tutur impositif. Yang termasuk ke dalam tindak tutur jenis ini antara lain tuturan meminta, mengajak, memaksa, menyarankan, mendesak, menyuruh, menagih, memerintah, mendesak, memohon, menantang, memberi aba-aba.
Contohnya adalah
 “Bantu aku memperbaiki tugas ini”. Contoh tersebut termasuk ke dalam tindak tutur jenis direktif sebab tuturan itu dituturkan dimaksudkan penuturnya agar melakukan tindakan yang sesuai yang disebutkan dalam tuturannya yakni membantu memperbaiki tugas. Indikator dari tuturan direktif adalah adanya suatu tindakan yang dilakukan oleh mitra tutur setelah mendengar tuturan tersebut.

3)        Tindak tutur Ekspresif
Tindak tutur ini disebut juga dengan tindak tutur evaluatif. Tindak tutur ekspresif adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar tuturannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan dalam tuturan itu, meliputi tuturan mengucapkan terima kasih, mengeluh, mengucapkan selamat, menyanjung, memuji, mengalahkan, dan mengkritik. Tuturan “Sudah kerja keras mencari uang, tetap saja hasilnya tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga”. Tuturan tersebut merupakan tindak tutur ekspresif mengeluh yang dapat diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang dituturkannya, yaitu usaha mencari uang yang hasilnya selalu tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Contoh tuturan lain adalah “Pertanyaanmu bagus sekali” (memuji), “Gara-gara kecerobohan kamu, kelompok kita didiskualifikasi dari kompetisi ini” (menyalahkan),  “Selamat ya, Bu, anak Anda perempuan” (mengucapkan selamat).

4)        Tindak tutur Komisif
Tindak tutur komisif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan segala hal yang disebutkan dalam ujarannya, misalnya bersumpah, berjanji, mengancam, menyatakan kesanggupan, berkaul.
Contoh tindak tutur komisif kesanggupan adalah “Saya sanggup melaksanakan amanah ini dengan baik”. Tuturan itu mengikat penuturnya  untuk melaksanakan amanah dengan sebaik-baiknya. Hal ini membawa konsekuensi bagi dirinya untuk memenuhi apa yang telah dituturkannya. Cotoh tuturan yang lain adalah “Besok saya akan datang ke pameran lukisan Anda”, “Jika sore nanti hujan, aku tidak jadi berangkat ke Solo”.

5)      Tindak tutur  Deklarasi
Tindak tutur deklarasi merupakan tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya untuk menciptakan hal (status, keadaan, dan sebagainya) yang baru. Tindak tutur ini disebut juga dengan istilah isbati. Yang termasuk ke dalam jenis tuturan ini adalah tuturan dengan maksud mengesankan, memutuskan, membatalkan, melarang, mengabulkan, mengizinkan, menggolongkan, mengangkat, mengampuni, memaafkan. Tindak tutur deklarasi dapat dilihat dari contoh berikut ini.
a)      “Ibu tidak jadi membelikan adik mainan.” (membatalkan)
b)      “Bapak memaafkan kesalahanmu.” (memaafkan)
c)      “Saya memutuskan untuk mengajar di SMA almamater saya.” (memutuskan).

TRANSKRIP SIMULASI MENGAJAR

       1.        Tema                                : Peristiwa
       2.        Kelompok                        : 1
       3.        Mata Pelajaran                 : Bahasa Indonesia
       4.        Kelas/Semester                 : I / I
       5.        Materi                               :  Memahami bacaan (cerita pendek)
       6.        Waktu                              : 15 Menit ( simulasi)
       7.        Hari/Tanggal                    : Senin / 11 Maret 2013
       8.        Standar Kompetensi        : Membaca: Memahami isi berbagai teks bacaan sastra dengan membaca
       9.        Kompetensi Dasar            : Menceritakan kembali cerita anak yang dibaca
11.    Tujuan
Berlatih keterampilan dasar mengajar, terutama pada aspek :
      1)      Bertanya dasar                       
      (1)   Pengungkapan pertanyaan secara jelas dan singkat                      : 4x
      (2)   Pemberian acuan                                                                           : 3x
      (3)   Pemberian waktu berpikir                                                             : 5x
      (4)   Pemindahan giliran                                                                       : 6x
      2)      Penguatan                  
      (1)   Verbal                                                                                           :6x
      (2)   Mimik dan gerakan badan                                                             :5x
      (3)   Penguatan dengan cara mendekati                                                           :5x
      3)      Variasi                         :
      (1)   Penggunaan variasi suara                                                              :3x
      (2)   Pemusatan perhatian                                                                     :4x
      (3)   Kesenyapan                                                                                   :2x
      (4)   Pergantian posisi guru dalam kelas                                               :4x

       1)        Kegiatan Pendahuluan ( 3 Menit)
Guru              : (guru memasuki kelas ) Selamat Pagi, anak-anak
S                        Siswa            : Pagi juga Pak........ (siswa menjawab dengan  serempak).
Guru              : bagaimana kabar kalian hari ini? (suara bersemangat)
(keterampilan variasi suara)
Siswa             : Baik Pak.
Guru              : kalau  keadaan  kita baik dan sehat, maka sepantasnya kita
mengucapkan apa anak-anak?  (guru bertanya secara singkat dengan gerakan badan dan mimik guru yang ceria,)( keterampilan bertnya dasar secara jelas dan singkat ).
Siswa             : Bersyukur Pada Tuhan.. ( serempak )
Guru              : pintar semuanya. (guru tersenyum dan mengacungkan
jempol  ke arah semua anak ) ( penguatan verbal dan penguatan gerakan badan)
 Anak-anak sudah berdoa belum?
Siswa               : belum Pak.
                       Guru               : kalau begitu, sebelum belajar kita berdo’a terlebih dahulu, Siapa diantara kalian yang bersedia memimpin do’a?
Siswa                : Saya Pak. ( jawb Kadir)
Guru               : Baik, silakan nak Kadir  memimpin do’a. ( kemudian guru duduk ) (keterampilan variasi posisi guru )
             (guru dan siswa berdo’a bersama-sama)
                        Guru             : terima kasih Nak Kadir yang sudah bersedia memimpin doa. (guru mendekati  Kadir) (ketrampilan penguatan mendekati).  Semoga dengan berdoa tadi, pembelajaran kita hari ini berjalan dengan baik.
Anak-anak siapa hari ini yang tidak hadir?
Siswa                : hadir semua Pak.!
                        Guru               :Syukurlah , (guru tersenyum) (ketrampilan penguatan dengan mimik dan gerakan badan  ) siswa Bapak lengkap semuanya. kalian memang anak-anak Bapak yang rajin. (penguatan verbal)
sekarang siapkan perlengkapan belajar kalian. ( guru memberikan waktu untuk anak).  Sudah?
Sisiwa           : Sudah Pak!
Guru              : Siap untuk belajar! (dengan wajah ceria dan suara yang
lantang) (keterampilan variasi suara)
Siswa              : Siap Pak! (serempak)
Guru                :Baik…sekarang perhatikan Bapak ! ( pemusatan perhatian)

                       Kegiatan inti ( ±10 menit)
                        Guru             : nah anak-anak, Bapak memiliki sebuah kertas ini.  (keterampilan memberikan acuan).  Coba perhatikan  kertas yang ada si tangan Bapak ini! ( guru berjalan ke tengah kelas sambil memperlihatkan kertas ). (ketrampilan posisi guru) Nah sekarang, siapa di antara kalian yang bersedia membacakan cerita yang terkandung di dalam kertas ini (keterampilan guru memberikan waktu berfikir).
                        Siswa              :Saya Pak....( jawab Sri ).
                        Guru               : silakan Sri  maju ke depan....
                        Siswa              : Baik Pak....
                     Guru              : tolong kalian dengarkan  baik-baik apa yang akan dibacakan Sri . , kalau ada hal yang penting tolong diingat dan  Bapak  mohon  jangan ada yang ribut. Sudah siap untuk mendengarkan? ( variasi pemusatan perhatian)
                        Siswa            : siap Pak ( jawab siswa serempak penuh antusias)
(Sri  membacakan Cerita pendek dengan menggunakan sebuah kertas anak yang sedang berlari menghindari kejaran lebah-lebah dan siswa dengan tenang mendengarkannya)
GARA-GARA KETAPEL
Tomtom murid kelas dua. Ia anak yang usil. Tomtom senang bermain ketapel.
Suatu hari Tomtom melihat seekor kucing sedang tidur. Ia membidik kucing itu dengan ketapelnya. Si kucing kaget. Kucing itu lari. Kucing itu lalu memanjat sebatang pohon. Tomtom senang melihat kucing itu ketakutan. Tomtom membidik lagi. Namun ia salah sasaran.
Batu ketapel Tomtom mengenai sarang lebah. Lebah-lebah mengejar Tomtom. Lebah-lebah itupun menyengat muka dan tangan Tomtom. Muka dan tangan Tomtom jadi bengkak. Tomtom tidak akan lupa kejadian itu. Sejak itu, Tomtom jera. Ia berjanji tidak akan usil lagi.
( ketrampilan variasi kesenyapan dan pemusatan perhatian )
 ( setelah Sri  selesai membacakan cerita, guru mempersilakan Sri duduk )
Guru              : terima kasih Sri  karena sudah bersedia membacakan
cerita. ( guru tersenyum ke arah Sri  ) ( keterampilan penguatan dengan mimik dan gerakan badan)
                    Guru          :dari cerita yang baru saja dibacakan teman kalian  tadi, siapa yang tahu judul ceritanya? (keterampilan guru bertanya secara singkat dan jelas serta memusatkan perhatian siswa dan memberikan acuan)
                    ( siswa berebut ingin menjawab soal kuis)
                   Guru           : Coba Suci  (keterampilan pemindahan giliran)
                   Siswa         : gara – gara ketapel Pak.                                                          
                   Guru          : Ya benar sekali jawaban Suci. (keterampilan penguatan verbal  )
                    siapa yang tahu nama Anak yang ada dalam cerita tadi?
                      (keterampilan memusatkan perhatian dan keterampilan bertanya secara singkat dan jelas)
                   ( siswa berebut ingin menjawab soal)
                   Guru           : coba Desi.( keterampilan memindahan giliran)
                   Siswa         : Tomtom Pak...
                   Guru          : Ya benar sekali jawaban Desi. (keterampilan penguatan verbal ).
                   Nasehat apa yang bisa kita ambil dari cerita tadi? (keterampilan pemberian acuan dan bertanya dengan jelas dan singkat )
                   Siswa         : kita tidak boleh nakal Pak.
                    Kita harus  jadi anak yang baik Pak.
                   Guru         : ya, benar sekali jawaban kalian ( sambil mengacungkan jempol) ( penguatan gerakan badan )
                 Wah, kelihatannya semua murid Bapak sudah belajar dengan semangat dan memperhatikan dengan baik cerita yang baru saja di bacakan teman kalian Sri  tadi.
                   Sekarang, Bapak akan membagikan LKS. Tolong dijawab dan jangam ribut ya...
                   Siswa         : Baik Pak...( keterampilan variasi kesenyapan)
( guru membagikan LKS, guru mengawasi siswa, dan berpindah-pindah tempat) (ketrampilan variasi pindah posisi)
                   Guru       :  Sudah selesai mengerjakannya anak-anak?
                   Siswa        :  Sudah Pak....
                   Guru       : Wah.. Hebat sekali siswa Pak, ( keterampilan penguatan verbal). cepat sekali mengerjakan soal yang Bapak berikan. (sambil tersenyum penguatan mimik). Sekarang, mari kita diskusikan jawaban-jawaban yang dari LKS tadi. Tolong tukarkan LKS kalian dengan teman di sebelah kalian.
                   (Siswa menukarkan hasil pengerjaan LKSnya)
                   Guru            : Siapa yang bersedia membacakan soal dan jawaban pertama?( pemberian waktu berfikir)
                   Siswa         : Saya Pak.... (jawab Rika)
                   Guru           : ya silakan Rika.( pemindahan giliran)
                   Siswa         : bagaimana sifat Tomtom?
                   Sifat Tomtom usil.
                   Guru           : benar sekali jawaban Rika.( sambil tersenyum ke arah Harmoko) (penguatan verbal).
                   Soal nomor 2, siapa yang bersedia membacakan?( pemberian waktu berfikir)
                   Siswa         : saya Pak... (jawab Era )
                   Guru           : silakan Era.( pemindahan giliran)
                   Siswa         : permainan apa yang dimainkan Tomtom?
                   Tomtom bermain ketapel
                   Guru          : ya,  jawaban yang dibacakan Erawati benar. (sambil mendekati ke arah Erawati) (penguatan dengan mendekati). Apakah ada jawaban yang lain?
                   Siswa         : sama Pak....
                   Guru           : baiklah, siapa yang bersedia membacakan soal dan  jawaban nomor 3 ?( pemberian waktu berfikir)
                   Siswa         : saya Pak.... ( jawab Septri )
                   Guru           : silakan Septri....( pemindahan giliran)
                   Siswa         : mengapa Muka Tomtom bengkak?
                   Muka tomtom bengkak karena disengat lebah
                   Guru         : ya, sangat tepat jawaban yang baru saja dibacakan Septri  tadi.  (mendekat ke arah Septri  penguatan dengan mendekati). Sekarang kita lanjutkan soal nomor 4. Siapa yang bersedia membacakan?( pemberian waktu berfikir)
                   Siswa         : saya Pak ... ( jawab Riski )
                   Guru           : silakan Riski....( pemindahan giliran)
                   Siswa         : apa janji Tomtom? Tomtom berjanji tidak akan usil lagi.
                   Guru         :jawaban Riski benar dan tepat . (sambil mendekat ke arah Riski) (penguatan dengan mendekati )                   
                   Guru      :  Anak-anak hasil koreksi LKSnya tolong dikumpulkan pada Bapak, tolong dituliskan jumlah benarnya.

     1)   Penutup ( ± 2 menit)
                   Guru      :  Anak-anak tadi kita telah belajar tentang apa? (pengungkapan pertanyaan secara jelas dan singkat) (sambil berjalan di antara siswa) ( variasi pindah posisi)
                   Siswa     :  Tentang Cerpen Pak. . .
                   Siswa     :  Menjawab pertanyaan Pak
                   Guru      :  Iya, benar sekali (Sambil tersenyum) . (penguatan  mimik dan gerakan badan) dan ingat pesan cerita tadi ya anak-anak, kalian harus menjadi anak yang baik dan tidak usil seperti Tomtom.
                   Siswa      : baik Pak.
                   Guru      :  karena waktu sudah habis bapak akhiri pelajaran kita hari ini. Terima kasih atas perhatiannya, bapak akhiri terima kasih
                   Siswa     :  Terima kasih juga pak?

       Media Pembelajaran         :
  Teks Cerita Pendek (terlampir pada Transkrip)
        LKS ( terlampir)    
        Buku Sumber
 Buku Bina Bahasa Indonesia untuk SMP kelas 1 semester 1, halaman 25-45, Penerbit Yudistira.


                                                                                       Pekanbaru, 11 Maret 2013
Dosen Pembimbing                                                                 Simulator


  Dra. Erni M.Pd                                                                        Kalius